Mungkin akan selalu ditemukan dalam 2/3 malam.
Malam yang saaangat dingin, tanpa riak, tanpa gesekan dedaunan.
Saat dimana pecinta malam tunduk dalam diam, dihipnotis oleh gelap, dan diusap oleh angin2 sopan.
Namun, semua akan pecah ketika gelisah dalam menunggu.
Kubuka mata, mencoba memejamkan kembali, menelusuri dan merasakan kedatangan.
Mungkin masih masih terlalu jauh, sehingga tak mampu memprediksi jarak.
Kembali Tenaaang, usaha mencoba fokus kembali.
Tapi sayang, Hening membuatku liar merangkai irama.
tiba-tiba seruling, tiba-tiba sindeng, tiba-tiba dentuman gas.
kubongkar kembali not imaji itu, berusaha mencari
sepertinya semakin dekat, dekaat sekali, mungkin dia telah datang,
ternyata bukan...
Itulah hening,
mampu merangkai nada, liaar, orisinil, dan antik.
mampu memecah sepi menjadi keramaian yang datang secara tiba-tiba.
mampu menjadi senyum bagi orang yang merindukan kedamaian.
Dan itu hanya terjadi di 2/3 malam.
Malam ketika Tuhan menunggumu berbincang dengannya, dalam hening.